Sosialisasi ADI dan STID di Pondok Tahfidz Darul Madinah, Yayasan Hang Tuah

SUARATEMPATAN.COM – Pondok Tahfidz Darul Madinah, Kampung Tua Bengkong Sadai, Kel. Bengkong Laut, Kec Bengkong, mengadakan kegiatan Tiga pilar Dakwah. Pesantren, Mesjid Dan Kampus merupakan bagian dari upaya menghimpun dan mempersatukan basis kekuatan ummat dipusat intitusi keummatan: Masjid, Pesantren dan Kampus.

Pengasuh Pondok Tahfidz Darul Madinah, Yayasan Hangtuah, Ustadz Syafid, mengungkapkan,”Pak Natsir selalu mengatakan pada setiap pertemuan para aktivis pejuang ummat dari berbagai kalangan bahwa “Kita mengkader untuk mencetak jenderal lapangan, bukan prajurit”.”Tuturnya.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencari kader yg siap menjadi mahasiswa dan mahasiswi ADI Batam untuk kemudian melanjutkan studinya di STID Mohammad Natsir, Kegiatan ini di lakukan di Pondok Tahfidz Darul Madinah Yayasan Hang Tuah yg di Kepalai oleh Ustadz Syafid Syafaruddin.

Lanjut Ustadz Syafid Syafaruddin,”Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut setiap tahun nya, dan kami pihak Pondok dengan konsep 3 pilar dakwah yg disampaikan, InsyaAllah pondok kami siap menjadi salah satu pilar tersebut”Ungkapnya.

Berikut Ulasan Tertulis dari Mohammad Natsir:

Dalam buku Fiqhud Dakwah yang ia tulis Mohammad Natsir, ia menjelaskan masjid adalah lembaga risalah, tempat percetakkan umat yang beriman, beribadah yang menghubungkan jiwanya dengan khaliq, umat yang beralamal shaleh dalam kehidupan bermasyarakat, umat yang berwatak dan berakhlak teguh. Sejarah membuktikan, pada zaman Rasulullah dan pada zaman kekhalifahan berikutnya peran masjid sudah berfungsi multidimensi, antara lain tempat ibadah, pusat ta’lim dan tarbiyah, menjalin ukhuwah, serta pusat pembinaan dan kekuatan umat dalam arti yang luas.

Pilar Pesantren; Pondok pesantren adalah sebuah lembaga Iqomatudin, sebuah lembaga perjuangan menegakkan ajaran Islam. Baik melalui kegiatan pendidikan, kegiatan sosial , ekonomi, bahkan juga kegiatan politik. Sebab para kiyai dengan santrinya dahulu, di samping sebagai murabbi, muallim, ustadz dan da’i membimbing umat, juga sebagai pejuang aktif merebut kemerdekaan dari penjajahan, sehingga terbentuklah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bagi para kiyai dan para santri ketika itu merebut kemerdekaan adalah bagian dari panggilan akidah, panggilan dari tauhid dan keimanan kepada Allah SWT.

Agama dan ajaran Islam telah masuk ke dalam struktur ruhani dan kepribadian bangsa. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius yang tidak bisa dipisahkan dari ajaran agama. Bahkan para pendiri negara ini tidak ragu menempatkan kata Allah dalam mukaddimah Pembukaan UUD 1945, pada alinea ketiga. Perjuangan para kiyai, para santri merupakan pengaplikasian dari firman Allah dalam surah At Taubah (9) ayat 122.

Sebagai lembaga Iqomatuddin, Pondok Pesantren telah memiliki kepribadian (budaya) yang menjadi ciri khas, sekaligus ruh dari pondok pesantren. Eksistensi dan keberadaan pesantren ditentukan penguatan budaya atau ruh atau jati diri pesantren, antara lain (1) budaya akhlak dan adab, (2) budaya ilmu, (3) budaya ukhuwah dan jamaah, (4) budaya dakwah amar ma’ruf nahyi munkar, (5) budaya mandiri. Dalam meningkatkan budaya tersebut, menekankan arti pentingnya taawun dan sinergi baik antar pondok pesantren dengan komponen umat yang memiliki impian yang sama.

Pilar Kampus; Pada 1968, M.Natsir beserta para sahabanya membina generasi muda kampus (khususnya dosen, baik dalam bidang agama maupun bukan). (zai)