SECANGKIR KOPI BERSAMA UBI SETENGAH MATANG
Puisi: Romozh
Secangkir kopi bersama ubi setengah matang, dari hasil petaniku yang cemas
Kecemasan dari mahalnya harga beli
Setengah matang dari hukum tebang pilih
Kejujuran terjawab dalam lingkar janji-janji
Ubi jalar setengah matang
Seperti hukum terjadi di negeri ini
Menjalar tersangkut pada sudut tenggorokan, terkulai renggut harapan
Pematang tanah kelahiran kering pecah-pecah
Terhunus sombong beton baja liar
Tak subur lagi ubi jalar petaniku kini
Musnah luas hamparan hijau kemilaunya
Harapan tumbuh kerdil, nasib petaniku menggigil
Lumbung padi kosong, terongrong hama tikus pembegal upeti
Lesung petani tiarap, tanpa tanda nada ketukan riang asa
Rapuh rubuh cita generasi, berbuah tuba kebijakan petinggi negeri
Para petinggi yang seharusnya merendah di mata kurcaci
julur lidah petaka manjakan hasrat ke luar negeri
Secangkir kopi bersama ubi setengah matang, kami menggali kebiadaban tentangmu
Suka citamu diantara riuh resah pusaran bayi bayi tak bergizi
Kenyang pusar perutmu melingkar diantara lembah laparku
Kelakar riangmu merobek tangis pertiwi dalam lembar kegelapan
Salah dan benar katanya sebuah keseimbangan
Namun mental biadapmu melebihi timbangan
Secangkir kopi bersama harapan usang
Hitam kotor, lusuh, bahkan warna tak bermakna
Negeriku letih gaung dalam gumam tentang kejujuran
Jujur selalu gugur di tengah ribuan kebiadaban para koruptor
“Kolaborasi yang rupanya kotor”
—Btm2011—






